Entah apa yang terlintas di pikiran, ketika senin kemarin saya memutuskan untuk mencoba transjogja. Setelah menitipkan motor di kantor istri, di daerah kusumanegara. Saya pun naik dari halte kusumanegara (dekat SGM). Di Halte--shelter kata pegawai trans jogja--disambut dengan ramah, kemudian saya bertanya "Kalau mau ke UGM naik jalur apa ya?"
"Ow, kalau dari sini naik yang 1A, terus ganti di shelter janti, ambil yang 3A"kata mas pegawai.
Sebetulnya lebih cepat jika saya naik yang 2A dari halte yang di sebelah selatan, nanti turun di shelter depan panti rapih.
Berhubung di halte kusumanegara(SGM) belum terhubung dengan listrik, maka pembayaran dilakukan secara manual. Dicatat nama dan tujuannya. Setelah menunggu tidak terlalu lama, datanglah bis 1A, pada saat akan sampai di suatu halte, kondektur akan mengumumkan "saat ini kita akan sampai di shelter xxx, bla bla bla..." Pas naik, perbedaan yang sangat terasa bila dibandingkan dengan naik Kopata, Aspada dan sejenisnya adalah Dingin :). Sampai di shelter Janti, saya turun.Kembali bertanya pada petugas "Mas kalau mau ke UGM naik jalur apa ya?"
Dijawab"Oww, 3A tapi muter dulu ke adisucipto"
Dalam hati saya berkata, emang itu tujuannya mas muter-muter. Bis 3A pun datang, perjalanan dimulai lagi, muter sampai Adisucipto, lewat ringroad utara, masuk terminal concat, lewat jakal. Saya turun di shelter kopma UGM. Jalan kaki sampai Psikologi. waktu yang digunakan adalah sekitar satu jam. Yang perlu dicatat dari jalur 3A ini, kondekturnya wanita, pada awalnya dia masih mengumumkan "kita akan memasuki shelter bla bla bla..." tapi kok sampai adisucipto sudah tidak diumumkan lagi. Pintu keluar kaca di shelter tidak kentara. di shelter janti pintu keluarnya pecah akibat ditabrak ibu-ibu yang mau keluar dari halte, untuk ukuran pintu, kaca 4mm agaknya terlalu tipis.
Untuk perjalanan pulang, saya naik dari shelter panti rapih. naik 2A, muter lagi sih, sebetulnya naik yang 2B langsung sampai kusumanegara(SGM) sih, tanpa muter-muter. Tapi mumpung masih seribu, dan pingin jalan-jalan diputuskan naik 2A. Muter sampai terminal Jombor, lewat malioboro. Sampai SGM butuh waktu 1,5 jam.
Yang perlu dicatat adalah: gantungannya terlalu tinggi, anak SD atau yang bertubuh pendek tidak bisa menjangkau. Di Jombor, sopir berhenti di shelter untuk makan siang, pas dibelakangnya ada bus lain, dan disuruh jalan, pak sopir bilang"sek, aku lagi maem, kon sabar". Kapasitas 22 duduk 22 berdiri, saya ragu apakah akan ditaati, karena tidak ada kontrol, juga tidak ada kontrol langsung terhadap sopir maupun kondektur. Copet sepertinya masih bisa masuk, asal dia bayar :). Sebenarnya ada rasa sedikit jenuh ketika naik 2A, dikarenakan waktu perjalanan yang telalu lama, mungkin musik bisa sedikit menghibur (waktu itu belum ada)



kontrol di tangan penumpang
Kalo tentang kapasitas 22 duduk dan 22 berdiri bisa ditaati atau endak, kayaknya itu tergantung penumpangnya deh mas Veta.
Kayak kemarin aku naik A1 itu, bis ketiga baru naik, padahal kalau dipaksakan naik bis sebelumnya juga bisa berdiri umpel-umpelan... wong aku sama Thomas kurus-kurus gini hihihi... tapi karena pingin merasakan duduk yang nyaman, jadinya nunggu bis yang bisa longgar... kalo nggak mau naik nggak dipaksain naik juga kok sama petugasnya...
Jadwal Istirahat Supir dan Crew
Memangnya gak ada jadwal istirahat buat sopir/crew Transjogja ya?
pernah dengar? sopirnya bilang "sek, sak udut-an" :D
Menjajal Trans Jogja
Judulnya mBantul banged.. kenapa gak "mencoba" trans jogja ?
ya itu mbak, kalau kontrol
@lala: ya itu mbak, kalau kontrol di tangan penumpang. saya takutkan jika kapasitas bus udah maksimal nanti tetep ada yang masuk terus. kalau sampai berjubel-jubel kan gak ada bedanyadengan bis kota.
@yanarief: sepertinya ada jadwal maem kok, kan pengemudi harus sampai di Kantor JTT satu jam sebelum shift. tapi kok pak sopire sempet-sempete maem ya?
@anonymous: la aku wong mbantul jeh :)
pindah rute
*pertanyaan yg sama saat ngekron tempo hari. blm dijawab, bos!*
Pas ganti dari 1A ke 3A itu perlu bayar lagi atau tidak?
Kalau transjakarta, selama belum melewati pintu keluar, bisa naik tanpa perlu bayar lagi. Isoh muter-muter sakjelehe.
lama juga
lumayan lama juga ya perjalanan naek trans jogja.
menurutku kebalikannya
@veta: kok menurutku kebalikannya ya huehue kan yang ngerasain penumpangnya, kalo penumpang bisa memilih... mana ada penumpang yang milih berada dalam kondisi yang tidak nyaman? Kecuali anak2 sekolah yg buru2 karena dah telad kali... :D
@ryan_oke: sama juga kok, selama belum keluar ya gak baya lagi, jadi misal kayak aku kemarin, naik A1 dari bu Tjitro (seberang JEC), turun di halte bandara (dan nggak keluar halte) naik A3 ke arah Amplaz nggak bayar lagi.
Kalau kita punya tiket reguler, pindah/keluar halte lain juga nggak bayar lagi selama belum lewat dari 60 menit... bisa baca di brosur atau di http://transjogja.net/mekanisme ... cuman aku jg belum nyoba wong belum punya tiket reguler :P
saya paham
@lala: betul juga ya :), tapi sebetulnya ada nggak sih semacam komunikasi antara kondektur dengan petugas halte bahwa bus sudah penuh , atau komposisi penumpang?
@ryan: udah dijawab tuh, tapi sepertinya hanya berlaku untuk yang reguler tuh, soalnya kemarin saya bayar dobel jeh. piye ya?
Koordinasi kondektur dan supir
Eh, Veta, kalau soal koordinasi pramugara/i dengan kondektur, sepertinya ada, tapi kayaknya sih koordinasi tentang penuh atau tidak lebih antara pramugara/i dengan petugas halte.
Misalnya beberapa kali saya sering lihat pramugara/i bilang ke petugas halte tentang ada penumpang masuk atau nggak. Dan petugas halte bilang akan ada berapa penumpang. Kurang lebih seperti itu. Mungkin ini salah satu bentuk koordinasi biar penumpang pasti bisa ada dalam bis dengan nyaman kali ya? Handle untuk penumpang berdiri jelas jumlahnya, kayaknya gak enak juga kalau berdiri tapi gak dapat handle... hehehehe...
Soal tiketnya, iya, katanya itu untuk yang reguler, lha tapi tiket reguler saja kayaknya belum "semudah itu" bisa didapatkan (saya akan ceritakan nanti)... Eh, nanti tak coba tanya dah ke halte dekat rumah.. hehehe...
Post new comment