Susahnya beli tiket reguler Trans Jogja
Cerita foto, Opini warga, Suara penumpang February 22, 2008 oleh Thomas Arie
Setelah beberapa kali mencoba Trans Jogja, salah satu hal yang membuat saya penasaran adalah soal tiket reguler. Mulai dari alat pengecekan saldo, mekanisme masuk ke ruang tunggu di halte dengan identifikasi tiket reguler, dan lainnya.
Nah, kemarin akhirnya mencoba untuk membeli tiket reguler di salah satu
Pas di halte yang sekaligus POS itu, saya bilang ke petugasnya mau beli tiket. Petugas halte waktu itu menyampaikan bisa, dan kebetulan ada salah satu pihak dari Dinas Perhubungan yang ada disitu. Wah, sip! Kemudian saya disodori selembar kertas untuk mengisi infomrasi tentang saya sebagai konsumen. Ya, standar kok. Cuma ngisi nama, alamat, nomer identitas, besaran nominal tiket, dan tanda tangan.
Saya lihat petugas lagi disibukkan dengan sebuah alat kotak berwarna biru. Sepertinya ini ada hubungan dengan proses pembelian tiket reguler tersebut. Dan sepertinya ada “masalah” ketika memasukkan MMC kedalam alat tersebut. Setelah beberapa saat, sepertinya tidak berhasil juga. Saya iseng saja lihat itu MMC, dan dari bentuk dan adanya penunjuk tulisan “PUSH” di MMC, kelihatan arahnya sudah pas. Akhirnya MMC masuk. Tapi, kok alat tidak merespon, masih ada tulisan kurang lebih “Masukkan MMC kemudian tekan [#]“. Intinya saat itu bermasalah deh.
Yang terjadi berikutnya, saya mendapatkan jawaban yang intinya bahwa ada masalah dan saya tidak bisa beli tiket saat itu. Lha?! Piye to iki?. Lha ketika saya tanya soal saya yang sudah ngisi formulir pembelian, petugas di halte bilang (kurang lebih), “Ya, nanti saya coretnya…”. Akhirnya, untuk sementara saya belum beruntung mendapatkan tiket reguler ini…


vetamandra:
pahahahahaha… hehehehe, sing sabar nggih, gek tidak di semua halte bisa beli reguler to mas?
OOT, eh mas, bikin penggemar transjogja yok? kayak penggemar sepur itu hehe
February 22nd, 2008 at 12:51 pm
pipink:
Turunnya apakah harus di halte Kalu mo turun apakah harus di halte juga?????
February 22nd, 2008 at 2:01 pm
thomasarie:
Turun di halte Iya, kalau turun memang harus di halte. Walaupun ngotot pengen turun ditempat, kalau supir atau pramugara/i tidak buka pintu… ya tidak bisa keluar. Lagian, itu bis kan pintu lumayan tinggi, kalau mau loncat, ya lumayan juga itu…
February 22nd, 2008 at 4:25 pm
yanarief:
TJ Fans @veta : iya, ide bagus tuh.. namanya apa? kalau penggemar sepur, Railfan, lha.. kalo penggemar Trans Jogja, jadi TJ fans :D
February 22nd, 2008 at 4:45 pm
phery:
mesakke mesakke tenan koe mas
February 22nd, 2008 at 5:58 pm
thomasarie:
Sebenernya kalau sebabnya Sebenernya kalau sebabnya karena tiket habis sih gak masalah. Lha ini penyebab gagal beli tiket kayaknya kurang sip. Mosok gara-gara alat tidak beres. Asem tenan…
February 22nd, 2008 at 6:28 pm
Anonymous:
Pintu shelter-nya om,, mengamati di beberapa shelter trans jogja yg sering saya lewati, sepertinya perlu tambahan alat pengaman di portal antara shelter dengan bus. saya sering liat ada anak kecil “anguk” kepalanya liat keluar apakah bus-nya sudah kliatan apa blom,, hehe, apa ga miris tu ngliatnya,, klo jatoh kan lumayan tinggi tu (bwat usia anak2 1-3 sd) blom klo kesamber bus lewat ^^;
February 22nd, 2008 at 8:59 pm
Anonymous:
ya iyalah xD ya mesti no,, trans jogja gt,, klo nggak apa bedanya sama kopata-kopades-kobutri?? xD
February 22nd, 2008 at 9:01 pm
vetamandra:
TJfans @yan: namane keren juga mas, mengingatkan pada tj hooker (pilem di tv jaman dulu). AYok, sampeyan ketuane yo :D
February 23rd, 2008 at 10:45 am
thomasarie:
@veta: Loh, sing usul kan @veta: Loh, sing usul kan kowe, kowe ketua-ne saja piye? :D
February 23rd, 2008 at 11:26 am
vetamandra:
terlalu muda wah diantara anda-anda ini saya yang paling muda jeh :)) , produktif tapi masih muda :D
February 23rd, 2008 at 11:30 am