Inilah yang saya tunggu dari sejak lama. Adanya transportasi yang mengutamakan pelayanan kepada konsumen.
Sebelumnya perkenalkan, saya didik kebetulan saya bekerja di Budapest, Hungary. Saya sangat antusias dengan perbaikan transportasi di jogja, tempat kelahiran saya. Disini saya ingin mengucapkan selamat kepada jogja yang berhasil memulai menyelamatkan sistem transportasi jogja. Dan kepada masyarakat agar dimanfaatkan dengan baik fasilitas ini karena moda ini merupakan moda yang paling tepat dan sudah diterapkan di banyak negara maju. Alhasil mempengaruhi efektifitas mobilitas orang dan pekerja.
Saran untuk transjogja, agar halte ditambah, karena seperti yang saya lihat masih agak jarang. Ditambah satu halte di setiap jalan akan lebih sempurna. Sebaiknya musik/radio jangan dihidupkan. Kalaupun mau ada musik sebaiknya bernuansa musik daerah. Karena radio atau musik bisa mengganggu. Dan sopir tidak bisa berkonsentrasi untuk mengendarai angkutan. Setahu saya disini juga dilarang. Karena sejauh ini saya secara fisik belum lihat dan merasakan jadi saya belum bisa kasih komentar dan saran lainnya.
Yang mau saya srankan sebenarnya transportasi yang sudah ada sekarang di jogja. Karena transportasi yang sekarang sebenarnya bisa diperbaiki tanpa harus menciptakan transportasi baru seperti transjogja dengan anggaran tinggi. Walaupun saya sangat senang dengan keberadaan transjogja. Cuma transjogja belum mencakup trayek untuk setiap sudut kota. Padahal angkutan kota yang sudah ada punya trayek menyeluruh di kota jogja. Saran saya sbb:
- Bikin perda bahwa semua angkutan umum harus berhenti di bus stop. Kalau tidak kena sanksi. Penumpang yang memberhentikan angkutan bukan di bus stop juga harus kena sanksi.
- Pemda membuat bus stop di setiap jalan yang dilalui angkutan umum. Bus stop tidak harus tertutup. Cukup dengan tiang yang mempunyai rambu bertuliskan bus stop yang di pasang di trotoar. Di tiang di tuliskan nomer jalur bus, trayek bus, kalau bisa di jadwal tapi kalau belum bisa sementara papan nomer dan trayek info sudah cukup. Jarak bus stop satu dengan yang lain antara 200 - 300 meter. Sebagai contoh, disini (Budapest)bus stop kadang tidak punya halte tertutup, cukup tiang saja dengan papan informasi. Karena inti dari transportasi adalah tertib, aman dan nyaman, jelas(tempat, waktu, jalur dll).
Karena beberapa jalan dilewati tidak hanya oleh 1 angkutan, bisa dibikin multi bus stop. Yaitu 1 bus stop untuk 2 jalur bus. Idealnya 1 bus stop untuk 1 angkutan saja. Tapi 1 bus stop untuk 2 - 3 angkutan masih bisa diaplikasikan. Di sini (Budapest) 1 bus stop juga tidak hanya untuk 1 jalur bus. - Fungsikan trotoar sebagai fungsi asal untuk pejalan kaki, bukan untuk berdagang. Berdagang boleh tapi jangan di sepanjang jalan, diijinkan hanya maksimal 3 pedagang dan tidak memotong seluruh trotoar. Alokasikan pedagang dari trotoar ke tempat lain dengan kerjasama pemda setempat.
- Angkutan harus menutup pintu sebelum diberangkatkan. Karena ini faktor keamanan.
- Parkir di pinggir jalan dilarang, atau diperbolehkan tapi hanya sepanjang 4-5 meter untuk sepeda motor dan maximum 3 -4 mobil untuk setiap jalan. Dengan tarif parkir tinggi. Pelanggar dapat sanksi dan denda tinggi. Parkir harus dikelola oleh pemda atau perusahaan swasta dengan aturan hukum yang jelas.
- Rakyat harus patuh, dan belajar dengan sistem baru.
Apalagi ya? Belum terfikirkan nich. Kalau ada lagi nanti saya susulkan.
Dari sini sebenarnya akan muncul bisnis baru, yaitu komplek pedagang (yang biasanya angkringan) di tempat tertentu. Yang bisa dibilang food bazaar, cukup di tempat terbuka. Intinya mereka punya tempat berdagang. Selain itu akan muncul beberapa kalangan untuk membuka lahan mereka untuk parkir kendaraan. Menyusul pelarangan dan pembatasan parkir di jalan umum.
Memang akan lebih baik kalau angkutan di jogja seperti transjogja. Tapi solusi jangka pendek itu bisa untuk menyelamatkan jogja. Nah dengan sistem ini, transportasi jogja bisa ditertibkan, dan tidak semrawut lagi. Memang butuh perda sebagai payung hukum dan aparat yang tegas. Rakyat juga harus patuh, dan belajar. Memang susah mengubah kebiasaan rakyat dan angkutan yang menaikan/menurunkan penumpang di sembarang tempat. Tapi ini adalah solusi yang bisa diaplikasikan untuk jangka pendek untuk mengatasi kesemrawutan transportasi di jogja. Rakyat dan perusahaan angkutan kota mungkin protes. Tapi dengan sosialisasi yang baik pasti bisa dimengerti. Apapun itu aparat pemerintahlah yang harus memulai. Tegas, beri sanksi untuk pelanggar aturan tersebut.
Budapest, Hungary sebenarnya bukan kota sebesar jakarta karena hanya berpenduduk 3 juta. Jogja juga berpenduduk 3 juta. Di kota mungkin kurang dari 1 juta. Tapi jalan di jogja dan disini tidak jauh beda lebarnya, padahal disini mobil lebih banyak. Tapi kenapa mobilitas orang disini tidak terganggu. Karena sistem disini jelas dan transportasi umum difasilitasi. Di negara tetangga kita sistem busway juga biasa saja, tanpa harus berhalte yang memakan tempat. Mereka mengutamakan efektifitas, informasi yang jelas dengan aturan hukum. Trotoar juga memang diperuntukkan untuk pejalan kaki. Jadi orang pun tidak segan untuk berjalan ke bus stop.
Perubahan sederhana ini pasti akan menertibkan jogja. Pendatang maupun turis pun yang akan menggunakan transportasi umum akan jelas bus mana dan dimana harus menunggu bus baik transjogja ataupun angkutan umum. Banyak turis yang melihat bus dan angkutan kota lalulalang tapi dimana, bagaimana dan kemana bus itu bisa dinaiki tidak jelas. Kalau ini bisa diperbaiki pasti turis lebih nyaman, pekerja lebih bisa menikmati bertranportasi. Yang keduanya akan meingkatkan pendapatan daerah serta efektifitas kerja pekerja.
Ya semoga ini didengar aparat dan bisa diaplikasikan. Berikut juga terlampir contoh bus stop yang simple.
Semoga juli bisa pulang dan mencoba transjogja.
Mohon komentarnya.



Post new comment