Pertama kali pengoperasian alat transportasi umum dengan sebutan bis "Transjogja" ini, banyak masyarakat yang antusias ingin segera mencobanya. Aku salah satunya yang pengen mencobanya. Dengan harga promosi seribu rupiah, selain itu juga warga jogja ya harus nyoba dong.
Ternyata sangat berbeda dengan bus kota biasanya. Fasilitas yang aman dan nyaman seperti inilah yang didambakan oleh para masyarakat. Dari petugasnya yang ramah, di dalam bus juga tidak apek karena ada ac-nya, serta halte bus pun dirancang sedemikian rupa agar nyaman digunakan oleh masyarakat umum.
Tetapi sejak kemunculannya, ada pro dan kontra terhadap salah satu fasilitas transportasi umum ini. Walaupun begitu, menurut ku sendiri , lumayanlah jika bis transjogja ini berhasil nantinya. Ada dampak positif maupun negatifnya.
Dampak positif
- Dengan banyaknya masyarakat yang menggunakan bus ini, otomatis kendaraan pribadi berkurang penggunaannya, sehingga mengurangi polusi kota jogja,
- Kemacetan dan ruwetnya lalu lintas di jogja bisa berkurang dengan tidak banyaknya penggunaan kendaraan pribadi,
- Dengan menurunnya penggunaan kendaraan pribadi, dapat mengurangi juga konsumsi BBM yang disebabkan kendaraan pribadi tersebut. Dengan kendaraan pribadi, otomatis juga boros BBM, karena kebebasan kita pergi kesana kemari. Misal ke warung sebelah kampus aja pake motor (kebiasaan penduduk konsumtif)
Dampak negatifnya (menurut kasak-kusuk sebagian orang jogja)
- Menambah ruwetnya jalan (padahal kalau disiplin kan enggak juga). Mungkin masih adanya bis kota lama sehingga seakan-akan malah menambah kendaraan transportasi umum.
- Cape, dari halte ke tempat tujuan ataupun sebaliknya terasa jauh karena jauhnya jarak halte satu dengan lainnya.
Kesan dan sarannya
- Perbanyak halte secara merata di tempat-tempat tertentu seperti sekolah, rumah sakit, dll karena halte-halte sekarang ada yang jauh ada yang deket, ya semua dibuat deket lah..
- Terkadang masih menunggu lama di halte untuk naik bus, tapi mungkin nantinya itu masalah kebiasaan saja
- Tarifnya menurut pengamatanku sih sesuai fasilitas, akan tetapi mungkin dirasa mahal ketika ke tempat tujuan harus naik 2x atau 3x bus, adakah pemecahan masalah ini?
- Sukses buat Trans Jogja, mungkin dengan adanya bus ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat jogja.



Tarifnya menurut
pake tiket reguler, selama belum satu jam masih gratis kok, walu pindah-pindah jalur. Menurut beberapa orang , kalau transjakarta asal tidak keluar dari halte, bisa pindah-pindah jalur dan tidak bayar. kurang tahu kalau transjogja
bener..klo tetep berada
bener..klo tetep berada dalam halte, kita bisa berganti2 bis tanpa dipungut bayaran lagi.
beneran...
Itu buat yang berlangganan atau semua ya. Kalau yang berlangganan memang selagi belum 6o menit, kalau ganti bis lagi (tetap di halte), vouchernya ga berkurang
Andhik -- http://andhik.890m.com
Jadi gini, transit itu
Jadi gini, transit itu nggak bayar buat semua penumpang (baik yang punya kartu reguler/langganan atau single trip) selama tidak keluar halte/shelter.
Sedangkan khusus yang punya kartu reguler/langganan itu meskipun pindah-pindah halte nggak akan dikurangi lagi saldo di kartunya, selama belum lewat 60 menit.
Jadi sebenernya lebih hemat sih dibanding bis kota biasa yang kalau harus pindah bis/jalur harus bayar lagi.
Pindah Moda dari Motor/mobil pribadi ke Trans Yogya?
Bus Trans Yogya memang nyaman. Secara pribadi menyenangkan naik bus tersebut. Namun jika di komparasi secara ekonomi keuntungan naik bus Transyogya dengan naik motor atau mobil pribadi mana lebih untung?
Naik Motor: berapa biaya yang dikeluarkan? taruhlah rata2 1 liter bensin untuk jarak 30 km, untuk ukuran sedang, sehari kita akan menghabiskan rata2 perjalanan sekitar 30 km, katakanlah demikian (contoh tempat tinggal saya di Kalasan 15 km dari tempat kerja). Maka saya akan menghabiskan dana rp 4.500 sehari untuk biaya perjalanan ke tempat kerja, dengan catatan dari rumah sampai ke rumah lagi.
Naik mobil pribadi: Taruhlah rata2 1 liter bensin untuk jarak 11 km, untuk ukuran dan asumsi yang sama, saya akan menghabiskan Hampir Rp. 10.000 sehari untuk biaya perjalanan dari dan ke tempat kerja, dengan catatan dari rumah sampai ke rumah lagi.
Naik Trans Yogya: Sehari pp saya akan menghabiskan biaya Rp. 6.000. Jika rumah saya tidak terlalu jauh dari halte dan juga tempat saya bekerja tidak terlalu jauh dari halte, maka bisa jadi biaya yang keluar memang hanya Rp. 6.000 di atas. Namun dengan jumlah halte yang sangat sedikit, maka bisa dipastikan banyak orang membutuhkan biaya ekstra (minimal minta di jemput keluarga jika akan pulang ke halte terdekat dan naik becak/ojek jika akan ke kantor dari halte terdekat).
jadi pilih pindah atau tetap menggunakan kendaraan pribadi? Apapun, dari hitung-hitungan itu, saya berkesimpulan, pindah Trans Yogya jika di hitung dari sisi ekonomisnya tidak terlalu menguntungkan bagi pengendara kendaraan pribadi. Tapi kan pertimbangannya tidak semata soal ekonomi, bisa jadi soal kenyamanan, mengurangi kepadatan lalu lintas, mengurangi polusi udara dan sebagainya.
Tambahan Komentar
saya pernah coba trayek 1A, ternyata di bagian blower Ac-nya ada debu putih yang menggantung.
Memang masih mhl jg
Memang jika disandingkan dengan kendaraan pribadi masih tergolong mahal juga, mungkin soal tarif juga dari pihak transjogja mungkin nantinya dapat menekan harga tiket, polingnya dilebihin aja yang pilihan mahal,he....Tetapi jangan nantinya berimbas pada pelayanannya jg, ntar diturunin tapi pelayanan juga turun,ntar malah kaya bis kota...
Andhik -- http://andhik.890m.com
TRANSJOGJA, SOLUSI ATAU MASALAH BARU?
well... TransJogja? Saya teringat akan pertanyaan salah satu dosen penguji skripsi saya pada sidang Tugas akhir di penghujung april 2005. "Menurut anda, setujukah anda jika Jogja juga menerapkan busway, sama seperti di jakarta (waktu itu baru koridor I)?" Kemudian dengan lantang saya menjawab "Mungkin belum saat ini, atau bahkan tidak perlu". Karena menurut saya, permasalahan transportasi Jogja bukanlah terletak pada tingkat kemacetan akibat kapasitas jalan tak mampu lagi menampung volume lalu lintas diatasnya, namun lebih kepada pembaharuan angkutan umum yang sudah ada, dalam hal ini penggantian angkot2 lama yang sudah tidak layak operasi lagi. Membangun suatu moda transportasi dengan menggunakan halte pada beberapa titik di jarak setiap beberapa meter, selain mengurang kapasitas jalan juga mengurangi jalur yang dapat dipakai oleh pengguna kendaraan pribadi. Jakarta melakukan itu karena Jakarta tak mampu menampung jumlah kendaraan bermotor (terutama mobil) yang sudah overload. Sementara, kemacetan lalu lintas di Jogja masih sangat bisa dikendalikan. Jadi, apakah itu sebuah solusi atau malah masalah baru bagi transportasi Jogja? Bukankah jogja ber+ macet skg?
fasilitas difabel pada halte transjogja
menurut saya transjogja keluar pd waktu yg tepat untuk mengatasi masalah transportasi yg ada di jogja saat ini, tapi di sisi lain masih ada sedikit kekurangan dalam desain halte transjogja. Misalnya belum adanya fasilitas yg tersedia bagi difabel. Usul aja nie.. 'gimana kalo desain halte dimuat dalam satu forum tertentu misalnya koran agar para difabel bisa belajar dan mengenali halte tersebut' thanks ya!! semoga fasilitasny makin maju, matur nuwun 'n pareng ya mas dab........
Tanggapan Trans Jogja Solusi atau Masalah Baru
Trans Jogja, solusi atau masalah baru? Jawaban dari pertanyaan ini tentulah berupa opini. Opini-opini tersebut tentulah berdasarkan pada berbagai pertimbangan. Tetapi, saya punya beberapa fakta yang akan saya ungkapkan :
Trans jogja memang sedikit terlambat dalam pengoperasiannya. Mengingat saat ini angka penyerapan angkutan umum (jumlah penumpang yang terlayani oleh angkutan umum) sudah menurun tajam. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya jumlah kendaraan bermotor yang memadati jalan di Yogyakarta. Mungkin akan berbeda hasilnya jika pengoperasiannya 7 tahun yang lalu misalnya. Tetapi, seperti kata pepatah, "lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali".
Berkaitan dengan komparasi kota Yogyakarta dengan Jakarta, saya pikir kecuali kebudayaannya, Yogyakarta sudah semakin menyerupai Jakarta. Indikator-indikatornya seperti pertambahan populasi dan peningkatan jumlah pusat keramaian menunjukkan kecenderungan ke arah sana. Jadi bukan tidak mungkin Yogyakarta juga akan memiliki masalah transportasi yang sama dengan Jakarta. Bahkan mungkin akan lebih buruk karena karaktristik jalan di Yogya berbeda dengan jakarta, dimana jalan di yogya relatif lebih sempit.
Trans Jogja sedang berusaha melakukan pembaharuan terhadap sistem transportasi di jogja. Dalam langkah awalnya tentulah akan mengalami perjalanan yang berat, karena harus menyesuaikan dengan pengharapan orang banyak. Tetapi, perlu diingat bahwa masalah transportasi di jokja itu bukan hanya masalah pemerintah, tetapi masalah kita juga. Oleh karenanya kita harus pro aktif terlibat untuk mencari pemecahannya. Semoga kita dapat belajar dari semua ini sehingga kita tidak mengalami kemunduran tetapi kita bergerak maju.
Pemerintah sudah memberikan pliihan kepada kita, sekarang tergantung kepada kita apakah kita mau menjadi bagian dari usaha pembaharuan tersebut atau tidak.
N.B.: Saya pribadi adalah pengendara mobil. Sekarang saya hanya menggunakan mobil untuk saat-saat tertentu saja. Apalagi, setelah saya melakukan perhitungan, saya dapat menghemat pengeluaran saya untuk membeli bahan bakar sampai 50ribu selama satu bulan setelah memakai trans jogja.
solusi atau masalah
menurut saya langkah jakarta sudah terlambat, karena disana sudah macet mas. ditambahi Transjakarta ya tambah macet lah.
bukankah dengan adanya transjogja ini adalah pembaruan, mengganti sistem setoran, mengurangi potensi kecelakaan akibat "cenanangan"bus kota. Perasaan hampir semua bus kota itu tidak layak jeh, dan itu milik pribadi loh, menurut mas apakah pemilik akan mau mengganti busnya dengan yang baru?
Masih banyak perhitungan lain...
Ehm...biaya yang dihitung gak sekedar bbm mas,pemakaian oli???umur spare parts(spt roda,kampas rem,dll),kl ngitung cuma bbm aja sih emang enak naik kendaraan pribadi, tp coba mas imenk hitung dengan perbandingan umur spare parts td (yg harusnya misal 6 bln diganti mungkin bisa hemat jadi 9 bln atau 1 thn).Belum lagi kondisi fisik kita, kl capek kan manggil tukang pijet juga (biaya ekstra juga)....:):)Kl mengenai biaya ekstra sih itu relatif maka usulan ada kantong parkir bagus juga,tp kl gak terlalu jauh kan bisa jalan (itung2 olahraga...:):))
Mas Alfred, Betul juga,
Mas Alfred,
Betul juga, memang kalau mau itung2an harus lebih komprehensif, selain soal yang sudah disebutkan (termasuk capek dan harus pijet :)) adalah soal waktu tempuh.
Biasanya apapun hitungannya, waktu tempuh juga menjadi pertimbangan utama. Contoh, ketika saya pulang menggunakan TransYogya dari Halte THR sampai di Pasar Kalasan (untuk jam yang sama sekali tidak sibuk, yakni jam 18:30 malam), membutuhkan waktu 2 jam perjalanan (naik 2A dan ganti 1B), sehingga saya tiba di pasar Kalasan sudah pukul 20:30.
Perbandingannya ketika saya memanfaatkan kendaraan pribadi roda dua saya akan membutuhkan waktu sekitar 40 menit, sementara jika menggunakan roda 4 saya hanya akan membutuhkan waktu kurang dari 30 menit.
Nah, argumen2 ini tentu saja sifatnya masih sangat subyektif. Namun ada baiknya memang kita terus mengemukakan pertimbangan2 sehingga rasionalisasi penggunaan moda transyogya ini semakin kuat dan masukan bagi operator untuk mempertimbangkan misalnya pengurangan waktu tempuh, dan sebagainya.
Wassalam,
imenk
Beberapa Pemikiran
Saya setuju dengan pendapat mas Imenk bahwa waktu tempuh itu adalah salah satu pertimbangan utama dan penting. Sayangnya, hal ini belum dapat diakomodasi oleh Trans Jogja. Menurut saya, sepertinya orientasi dari trans Jogja ini baru sekedar menghubungkan tempat-tempat tujuan (Misalnya, sebagai penghubung antar terminal atau antar pusat perbelanjaan), bukannya sebagai penghubung antar jalan. Sehingga tampak sekali bahwa rutenya itu cenderung memutar untuk sampai ke tujuan. Akibatnya waktu tempuh juga jadi lebih lama.
Saya ingin mengambil Trans Jakarta sebagai pembanding. Trans Jakarta menerapkan sistem koridor untuk pelayanannya. Bus-bus yang melayani masing-masing koridor akan berjalan 2 arah (bolak-balik) sepanjang koridor tersebut. Hal ini dimungkinkan karena di tiap-tiap ujung dari koridor terdapat jalan yang memutar sehingga bus akan kembali ke jalan yang tadi telah dilaluinya tetapi dengan arah berlawanan. Selain itu, trans jakarta mempunyai lajur sendiri, sehingga keberadaan halte yang berdiri di tengah jalan/di atas divider (untuk dapat melayani 2 bus dengan arah yang berbeda) dimungkinkan. Untuk trans jogja sistem ini tidak dapat diterapkan karena banyak jalan di jogja sifatnya satu arah. Selain itu, jalannya relatif sempit. oleh karena itu, untuk dapat mengakomodasi arus bolak-balik trans jogja menerapkan sistem trayek berpasangan, misalnya trayek 1A merupakan kebalikan arah dari 1B, 2A merupakan kebalikan arah dari 2B, dst. Sedangkan trayek berpasangan ini memutar cukup jauh. Misalnya, jika saya di JEC dan saya ingin pergi ke Ambarukmo pLaza, maka pilihan saya adalah dengan menggunakan trayek 1B yang harus memutar sampai ke samsat, atau 1A yang harus memutar sampai terminal prambanan, atau 1B sampai kusumanegara kemudian transit 2A sampai colombo kemudian transit 1B lagi untuk ke amplaz.
Selain itu, masalah berikutnya adalah transit. Transit untuk transjakarta terjadi bila 2 koridor atau lebih saling berpotongan. Jadi, para pengguna tidak perlu meninggalkan halte untuk transit ke lain koridor. Sedangkan untuk trans jogja, sekali lagi karena sistemnya berbeda, maka para pengguna tiket single trip akan mengalami kesulitan. Sebagai contoh, jika saya berada di bethesda dan saya ingin pergi ke kopma UGM, maka saya menggunakan trayek 1A sampai ke gondolayu, kemudian saya menyeberang jalan ke halte depan hotel untuk transit menggunakan trayek 3B. Bagi pengguna tiket berlangganan tentu tidak akan ada masalah, karena tidak perlu membayar lagi. Tetapi, bagi pengguna tiket single trip terpaksa harus membeli tiket lagi. Selain itu, untuk mensiasati hal ini, maka trayek suatu bus dilewatkan ke trayek bus lain, sehingga pengguna tiket single trip tidak perlu membayar lagi jika ingin transit ke lain trayek (Misalnya jalan malioboro yang dilewati oleh 3 trayek). Hal ini tentu mengakibatkan jarak edar trayek menjadi lebih jauh dan pada akhirnya waktu tempuh juga jadi lebih lama.
Saya dapat membayangkan beberapa solusi.
1. Perlunya dipertimbangkan sistem koridor. Atau mungkin jarak edar trayek yang pendek tapi jumlah trayek lebih banyak.
2. Adanya jembatan penghubung antar halte tertentu, sehingga pengguna tiket single trip tidak perlu membeli tiket lagi jika mau transit ke trayek lain
3. Adanya tiket single trip yang dapat digunakan selama jangka waktu tertentu ( 60 menit misalnya). Jadi seperti tiket langganan tapi tanpa perhitungan pulsa. Hal ini berarti perlu sistem informasi yang baru untuk mengenali tiket tersebut.
Dalam beberapa bulan ke depan operator masih akan terus mengevaluasi operasional trans jogja. Salah satu yang menjadi bahan pertimbangan mereka tentu saja antara lain adalah load factornya karena bagaimanapun juga perusahaan tidak mau rugi. sedangkan untuk "solusi" yang saya bayangkan tadi tentu memerlukan biaya tambahan. Apapun itu, sekali lagi saya tekankan bahwa masalah transportasi di jogja adalah masalah kita bersama. Jadi, seberapa kecil pun peran kita untuk menyelesaikan masalah tentu akan mempunyai andil. Oleh karena itu, mulailah membeli tiket langganan trans jogja (lho?!!)
N.B. buat mas imenk mungkin kalo masnya naik 2A dari THR trus transit di halte basen naik 3A trus transit lagi di janti naik 1B bisa lebih cepat sampai ke kalasan
108 bus kemana?
PAk A.T. Bawono, memang betul 108 dicabut operasinya.
Lha gimana cara monitor bus yang 108 itu apa betul2 jadi rumpon atau jadi sumber 'kanibal' onderdil? lha gimana tahunya kalau bus itu dibikin dobel nomernya terus operasi? (Ingat lho di Bandung angkutan kota banyak banget dan ternyata pernah dioperasi ya itu ijinnya 1 yang operasi 2).
Menurut pihak yang berkompeten ada rencana bus yang ditarik tadi sebagian dijadikan halte yang 'mobile' dan bisa dipasang dimana yang butuh, misal pas sekaten maka perlu tambahan halte disekitar alun2 sana.
Narik diatas kertas sih gampang tapi mumet lho ngurus yang aneh2 tadi.
Perlu monitoring
Pak imbas, saya juga tidak mempunyai kapasitas untuk menjawab pertanyaan bapak. Bagus juga tuh usulnya supaya ada monitoring ketat. Kita pastinya tidak mau kan kalo bus lama (atau bahkan onderdil lama) yang kualitasnya sudah jelek masih tetap digunakan sehingga menyebabkan polusi parah.
Sepertinya pak imbas malah sudah punya sumber yang lebih berkompeten. Tapi untuk lebih jelasnya lagi, mungkin lebih baik ditanyakan ke stakeholdernya saja. Tentu saja melalui wakil rakyat kita.
(Tapi gimana wakil rakyatnya bisa mengetahui kondisi sebenarnya yang terjadi tentang pengoperasian trans jogja ya? Lha wong dikasih voucher tiket 15 ribu dari operator yang maksudnya supaya para wakil rakyat itu bisa langsung mengevaluasi saja tidak mau diterima kok)
Post new comment