Kalau kita membaca berita di KR (Senin, 1 September 2008) terdapat laporan perkembangan respons masyarakat dalam mengakses layanan Trans Jogja. Di sana disebutkan oleh pejabat dari Dinas Perhubungan DIY bahwa jumlah pengguna Trans Jogja semakin bertambah dari waktu ke waktu. Tentunya ini hal positif yang memang kita harapkan semua. Pejabat dari Dinas Perhubungan tersebut menambahkan pihaknya mulai memikirkan kemungkinan untuk melakukan penambahan halte karena pada sejumlah ruas jalan yang menjadi rute layanan belum tersedia halte. Ini juga saya kira sudah semestinya dilakukan, atau bahkan disadari sejak awal oleh pengelola layanan. Namun terkait dengan sejumlah data yang telah saya peroleh melalui studi yang dilakukan oleh Jurusan Ilmu Administrasi Negara UGM pada beberapa bulan yang lalu, saya ingin menyampaikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan oleh penyelenggara layanan Trans Jogja.
Pertama, persoalan halte. Hasil studi kami pada waktu itu menunjukkan bahwa empat hal yang paling banyak dikeluhkan warga pengguna kesemuanya berkaitan dengan halte, yaitu:
- ketersediaan fasilitas di dalam halte (kursi, kipas angin, informasi, dsb) (89.3 persen)
- jumlah dan letak halte (84.5 persen)
- kenyamanan fasilitas di halte (78.6 persen), serta
- desain dan ukuran halte (68.7 persen)
Total responden pengguna Trans Jogja pada studi kami adalah 252 orang, yang kami ambil dari semua jalur layanan secara merata. Dengan demikian besaran persentase tersebut perlu diperhatikan. Kenyamanan pengguna, terutama pada saat di halte, dipengaruhi oleh ketersediaan fasilitas pada halte serta desain dan ukuran halte.
Memang bukan berarti di halte harus disediakan beragam fasilitas yang memanjakan pengguna atau ukuran dan desain yang mewah, tetapi kenyamanan pengguna mutlak harus menjadi rujukan bagi pengelola dalam menyediakan fasilitas, misalnya seperti kursi yang jumlahnya memadai di ruang tunggu, terlindung dari silau/terik matahari, walau tidak perlu AC setidaknya kipas angin dipastikan dapat difungsikan, atau sejumlah hal yang sekiranya menyulitkan bagi pengguna difabel perlu disesuaikan, dan sebagainya dan seterusnya.
Jika memang jumlah pengguna Trans Jogja semakin bertambah banyak, maka kenyamanan pengguna berpotensi semakin menurun, karena dengan desain dan ukuran yang seperti itu ditempati oleh banyak calon pengguna. Ditambah lagi, dengan kondisi fasilitas yang ada sekarang ini. Sekali lagi, saya tidak menyarankan untuk memanjakan pengguna secara berlebihan, tapi kalau memang menginginkan Trans Jogja menjadi pilihan warga dalam memenuhi kebutuhan transportasinya maka berbagai hal yang menjadi perhatian dan keluhan pengguna harus diperhatikan oleh pengelola. Jangan hanya mengandalkan keunggulan di tarif dan fasilitas AC saja. Perbaikan dan pemeliharaan terhadap fasilitas yang beberapa sudah mulai rusak harus secepatnya dilakukan. Penyesuaian terhadap berbagai fasilitas untuk mempermudah akses dan meningkatkan kenyamanan pengguna perlu dilakukan secara terus menerus. Jangan sampai layanan Trans Jogja dinilai baik karena masih baru saja. Apa yang sudah baik perlu dipertahankan, sementara yang masih dinilai kurang harus diperbaiki.
Kedua, saya sepakat dengan pendapat seorang kawan yang disampaikan melalui media ini mengenai pentingnya pihak pengelola menyediakan data atau informasi mengenai perkembangan penggunaan layanan Trans Jogja selama ini. Bisa melalui website, atau melalui media publikasi lainnya yang bisa diakses pengguna ataupun warga kebanyakan, misalnya seperti newsletter, atau sekedar informasi yang diupdate secara berkala dan dipasang pada papan informasi di setiap halte.
Saya kira pihak pengelola tidak perlu merasa ragu, bahkan harus yakin, bahwa dukungan dan simpati masyarakat akan semakin meningkat apabila masyarakat mengetahui kinerja positif dari Trans Jogja. Lebih dari itu, kalau Trans Jogja ini berhasil maka publikasi yang terbuka mengenai itu bisa mengharumkan nama daerah, karena bisa menjadi kiblat bagi daerah lain dalam mengembangkan system transportasi serupa. Saya kurang tahu pasti, tapi saya mencoba untuk percaya bahwa pihak Dinas Perhubungan DIY memiliki kemauan dan komitmen untuk terus memperbaiki layanan Trans Jogja. SEMOGA.